Suatu malam, ditemani oleh salah seorang sahabat, Khalifah Umar melakukan inspeksi. Keduanya berjalan menyusuri jalanan Madinah untuk melihat secara langsung keadaan penduduk.Saat melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar mendengar suara percakapan dari dalam rumah.
“Mengapa tidak kamu campur saja susu yang kamu jual itu dengan air? Kamu tahu kita ini terlalu miskin dan kesulitan mencari uang”, tampaknya suara wanita tua yang bercakap dengan anak perempuannya.
“Tetapi, apakah Ibu lupa pesan khalifah? Beliau tidak ingin seorang pun menjual susu yang dicampur air”, jawab si anak.
“Tetapi tidak ada Khalifah Umar maupun pegawainya yang melihat apa yang kita lakukan.”
“Ada atau tidak ada khalifah, perintah Beliau adalah perintah yang harus ditaati oleh setiap muslim. Di samping itu, Ibu bisa saja lari dari pengawasan khalifah tetapi Ibu tidak bisa lari dari pengawasan Alloh Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dengan perlahan, Khalifah Umar meneruskan langkah kakinya. Ia bertanya kepada sahabatnya, “Hadiah apa yang bisa aku tawarkan kepada gadis itu atas kejujurannya?”
“Dia berhak mendapat hadiah yang besar. Katakan seribu dirham misalnya”, jawab si pengawal.
“Tidak, itu tidak cukup. Jumlah berapa pun terlalu kecil untuk integritasnya. Aku akan menawarinya hadiah terbesar dalam pemberianku. Aku akan menjadikannya milikku.”
Sahabat khalifah bertanya-tanya apa yang dimaksud sang khalifah. Keesokan harinya, khalifah mengutus seseorang untuk memanggil gadis itu. Gadis itu datang dengan tubuh gemetar di hadapan penguasa agung Islam itu.
Khalifah memanggil putra-putranya menghadap dan menceritakan apa yang Beliau dengar dari gadis itu malam sebelumnya.
Kemudian khalifah berkata, “Sekarang, anak-anakku. Aku ingin salah seorang dari kalian menikah dengan gadis ini. Aku tidak tahu gadis mana lagi yang lebih baik darinya.”
Salah seorang putra khalifah memenuhi usulan ayahnya. Gadis itu juga menyatakan kesediaannya. Akhirnya gadis itu menjadi putri menantu Khalifah Umar.
Versi lain mengatakan bahwa Sang Khalifah bersama salah seorang putranya beserta seorang pengawalnya datang melamar gadis tersebut. Gadis dan ibunya bersedia lalu putra khalifah dan gadis itu dinikahkan secara sederhana. Wallohu a’lam.
Sumber : Kisah-kisah Teladan