Laman

Indonesia Miskin Tanpa Rokok, Benarkah?



“Jangan singgung masalah rokok. Indonesia miskin tanpa rokok!”

Begitu kurang lebih isi sms yang ditujukan kepada Lentera Hati SMS Center beberapa waktu lalu. Sepintas terlihat sekali, betapa tersinggungnya orang tersebut ketika aktivitas merokok dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Rokok seakan bagaikan  candu. Jika ada orang yang memberi informasi buruknya merokok, maka para pro rokok pun kebanyakan tidak terima. Tetapi, jika ada yang pro ada pula yang kontra. Aku pun termasuk orang yang sangat kontra dengan rokok.

Hal itu berawal dari informasi tentang segala mudharat rokok yang terdengar hingga ke telinga. Yaitu, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Saking kontranya dengan rokok, aku sering menegur teman yang merokok di tempat les pada jam istirahat dan tak segan pula, berdiskusi dengan pengajar les tersebut tentang dampak buruk merokok. Tentu saja, aku yang masih ingusan waktu itu tidak digubris sedkit pun.

Bahkan salah satu pengajar biologi, seorang guru di sebuah SMA yang cukup ternama, pun sedikit bercanda mengatakan, “Nanti kalau mbak Dewi menikah, bagaimana jika suaminya merokok?” Mungkin Beliau berpikir, apakah aku tidak tersiksa dengan kondisi seperti itu. Setelah sempat terdiam sesaat, alhamdulillah aku segera dapat menjawab, “Ya, saya memilih suami yang tidak merokok, Pak,” seraya dalam hati sangat berharap dikaruniai suami yang tidak merokok. Alhamdulillah, Alloh berkenan mengabulkannya, dengan memberi aku yang masih miskin ilmu ini seorang suami yang insya Alloh sholih dan tidak merokok bahkan anti rokok.

Hati ini betul-betul berharap, para perokok sadar untuk tidak merokok lagi, melihat bahaya yang ditimbulkan. Pernahkah terpikir dalam benak mereka, orang-orang yang berada di sekitarnya ikut menjadi perokok pasif yang hal ini jauh lebih berbahaya. Apakah mereka tega melihat bayi serta anak kecil yang sedang dalam pertumbuhan otak dan fisiknya, dapat berakibat gagal tumbuh karena dampak asap rokok. Asap rokok ini pun dapat mengakibatkan cacat bawaan pada janin jika terhirup ibu yang sedang hamil. Bahkan tak jarang para penderita ini adalah istri dan anak-anak mereka sendiri.

Mungkin ada yang berasumsi, mereka merokoknya di ruangan yang tidak ada siapapun di situ. Okelah, mungkin orang lain secara tidak langsung tidak merasakan dampak rokok tersebut. Tapi jika Anda, para perokok, merusak diri Anda dengan merokok, apakah Anda tidak kasihan dengan istri anak atau keluarga yang lainnya (orang tua dan saudara) yang merasa sedih dengan penyakit yang dapat saja menjangkiti tubuh Anda lantaran merokok.

Bagi Anda yang mengaku beriman, coba deh bayangkan. Jika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan Beliau berada di dekat Anda. Beranikah Anda merokok di hadapan Beliau lalu menawari rokok kepada Beliau? Anda bayangkan, bagaimana respon Beliau?

Tetapi kebanyakan para perokok itu bukannya sadar. Terbukti jika aku menulis status tentang rokok, masih ada yang sangat-sangat tidak setuju dengan status tersebut sepenuh keyakinan mereka. Walau sepertinya berbeda halnya dengan status yang aku update beberapa hari lalu. Perihal status tidak disukai sih biasa. Tapi bukan itu yang aku maksud. Melainkan, betapa sudah tak dipedulikan lagi bahaya yang dapat timbulkan dari merokok. Dan jika melihat Indonesia mayoritas Islam, bisa diterka bahwa sebagian besar perokok pun mengaku seorang muslim. Padahal, orang-orang Yahudi saja tidak menyukai rokok. Mengapa? Karena mereka tahu akibat buruknya. Anda juga bisa lihat respon positif orang-orang yang berkunjung di situs Coronary Heart Disease yang sebagian besar adalah orang-orang bule. Situs tersebut membahas tentang penyakit jantung dan penyebab-penyebabnya termasuk rokok sebagai penyebab utama.

Tetapi bagaimana dengan Indonesia yang 60 juta jiwa (23%) dari 230 juta jiwa penduduknya (yang mayoritas muslim), yang jumlah ini menduduki peringkat ketiga di dunia (punya prestasi koq merokok, sungguh menyedihkan), masih merokok dan belum terketuk dengan nasihat-nasihat supaya berhenti merokok? Terbukti, ada orang yang dengan penuh keyakinan mengatakan ‘Indonesia miskin tanpa rokok’. Ini sungguh mengherankan. Tidakkah dia telah berpikir matang-matang sebelum mengatakan hal itu?

Pernahkah dia merenungkan tiga pertanyaan di bawah ini sebelum mengemukakan statement tersebut? Pertanyaan pertama, apakah Indonesia sudah merupakan negara kaya atau tidak miskin lagi? Padahal data yang saya peroleh dari Kompas, Negara Indonesia merupakan negara dengan pabrik rokok terbanyak di dunia. Yaitu ada 3.800 pabrik rokok yang tercatat di Indonesia. Melihat jumlah yang demikian besar, sudah seharusnya Indonesia merupakan negara kaya. Tetapi faktanya, betulkah begitu? Kedua, apakah benar dengan ditutupnya pabrik rokok, akan terjadi pengangguran? Kenyataannya, sampai sekarang pun masih tetap banyak pengangguran? Jika cukai rokok saja sebesar 56,4 triliun dalam setahun (tahun ini malah tergetnya 57,2 triliun), tentu omset rokok jumlahnya akan lebih besar lagi. Apakah dengan uang itu tidak dapat untuk membuka lapangan kerja yang lebih luas dan lebih barokah? Dan pertanyaan ketiga, lalu siapa yang memberi rizqi, rokok atau Allah Subhaanahu wa Ta’ala? Koq bisa yakin bahwa dengan tidak ada rokok, Indonesia bisa miskin?

Mengingat zaman kekhalifahan Umar bin Khattab dan khalifah-khalifah setelahnya, keuangan di Baitul Mal sungguh sangat banyak. Adalah kisah seorang khalifah yang menghadiahi salah seseorang berjiwa besar yang telah menyumbangkan peran besar bagi sastra Islam, dengan uang sebanyak 10.000 dinar emas. Kalau 1 dinar emas dihargai paling rendah 1,5 juta rupiah, maka 10.000 dinar emas nilanya sama dengan 15 Milyar. Jika hadiah saja nilainya 15 Milyar, lalu berapa jumlah kekayaan yang dimiliki Baitul Maal (kas ummat Islam)? Betapa kayanya Islam waktu itu..! Adakah rokok di jaman itu? Tentu tidak! Yang ada adalah membayar zakat bagi yang mampu, bukan pajak!

Tapi memang, hidup ini pilihan. Apa yang kita pilih menentukan nasib kita di masa datang. Sebagai rakyat Indonesia, khususnya bagi yang beragama islam, mau pilih yang mana? Bangsa Indonesia dengan para penduduknya yang gemar rokok sehingga keadaan ekonomi seperti ini terus atau sebagai bangsa yang bersama-sama anti rokok dan berganti menjadi sadar zakat (bagi yang sudah masuk nishab) sehingga perekonomian Indonesia dapat terus berkembang insya Allah. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...